Sesuatu Yang Anakku Harus Tau

Smua orang tua pasti pengen anaknya jadi yg “ter-” dalam segala hal. Terbaik, terpintar, tercepat, dll. Smua hal baik yg terjadi sama anak kita emang seharusnya jadi kebanggan (dan bahan up load di sosmed) bagi orang tuanya. Siapa sih yg gak bangga klo umur 1 th anaknya udah bisa mengenal huruf? Umur 2 th udah bisa baca? Umur 3 th dah bisa lancar kali-kalian? Umur 4 th dah hapal Al Quran? (Ini terlepas dari ada anggapan klo anak belum perlu diajarkan membaca sebelum sekolah dasar ya). Tidak sedikit orang tua yg “memaksakan” anaknya untuk ikut les ina inu, (bahkan les membaca untuk anak TK) sejak si anak masih belum genap 5 th. Aku bukan termasuk orang yg anti les2an kayak gini kok, selama kegiatannya masih menyenangkan buat anak, dilakukan dengan metode yg sesuai dengan umurnya, dan yg penting tidak ada pemaksaan dengan kekerasan terhadap anak. Aku pun sempet bilang sama suami, pengen deh Keenan ikut bela diri sejak kecil gara2 baca ini . (Yay..berhasil bikin link. *lirik @bagindaratu :D) . Tapi lalu timbul pertanyaan, sebenernya untuk apa sih kita sebagai orang tua “memaksa” anak untuk belajar dan bisa ina inu sedini mungkin itu? Apa bener itu murni untuk kepentingan anak? Atau jangan2 didominasi oleh keinginan kita untuk mempunyai hal yg bisa dipamerkan di sosmed dibanggakan? Atau jangan2 orang tua yg ingin menjadikan anak sebagai sarana pemenuhan obsesi yg tak sempat tercapai? Di lingkungan terdekatku, ada cerita begini nih. Dulunya ibunya pengen jadi penari ballet. Tapi karena jaman itu di kota kecil belum banyak les balet, kalaupun ada biayanya mahal banget dan orang tua si ibu emang gak ngijinin ikut les balet karena dianggap gak sesuai ajaran Islam. Lalu pas si ibu itu akhirnya punya anak cewek, langsung deh si anak didaftarkan les balet, walaupun tiap berangkat les si anak gak pernah semangat, dan setiap nari gak bisa senyum sepenuh hati, hanya gara2 takut sama ibunya. Anak ini sebenernya tomboy, lebih suka olah raga, dan pengennya ikut les renang atau basket aja. Tentu aja gak dibolehin sama ibunya, soalnya renang dan basket kan berpotensi menghitamkan kulit, sedangkan balerina idealnya berkulit cerah. πŸ˜€

Tapi yaaa sudah lah ya.. Kan “my kid my rule”. Kan “mother dont judge each other”. Kan ngapain juga ya mikirin pilihan orang lain sedangkan pilihan untuk anak sendiri aja (yg pasti dimintain pertanggungjawaban sama Allah) belum tentu bener.

Tapi… please please please ya… aku sungguh berdoa, sungguh pengen, jangan sampe ada orang tua yg kelupaan untuk sedini mungkin mengajarkan dan membiasakan anak untuk membuang sampah pada tempatnya. Kalo mengajarkan anak baca-tulis-berhitung-bahasa asing-dll saja bisa, harusnya mengajarkan membuang sampah juga lebih bisa dunk? Please please please kemampuan membuang sampah pada tempatnya ini harus diajarkan sedini mungkin. Sebelum anak mengenal ABC dan 123 dan monkey cow cat. Karena aku sudah membuktikan sendiri, ketika si anak itu sudah tumbuh besar-dewasa-tua dan tidak dibekali kemampuan yg satu ini, itu sudah terlambat. Mau liat contohnya? This is it :

Lokasi kejadiannya di balkon kantor, 1 meter dari meja kerjaku terhalang pintu kaca doang, dan pelakunya adalah seorang manager

Lokasi kejadiannya di balkon kantor, 1 meter dari meja kerjaku terhalang pintu kaca doang, dan pelakunya adalah seorang manager

Sudah lah itu puntung rokok, masih juga dibuang sembarangan. Kalo soal merokoknya, ya sudah lah ya, itu susah dipengaruhi. Tapi aku sungguh terganggu dengan buang sembarangannya itu. Waktu bulan pertama aku kerja di sini dan melihat kondisi dan kebiasaan seperti itu, dengan di kantor ini ada 2 orang perokok berat, tapi gak ada asbak 1 pun, aku inisiatif belikan asbak sendiri. 1 orang 1 asbak. Maksudku sekalian nyindir lah ya. Tapi gak mempan ternyata. Itu baru puntung rokok. Sebenernya ada yg lebih jorok lagi. Di rak di belakang si bapak itu, saat ini udah ada 2 botol minuman kosong dari minggu lalu (ya..ya.. aku emang kurang kerjaan sampe memperhatikan soal ini. :D) dan di tempat pensil mejanya ada sedotan warna ungu bekas juice dari taun lalu. Iya sedotan.. aku juga gak tau gimana critanya sampe sedotan ada di dalam tempat pensil meja. Jijik gak sih. Kami sengaja gak ada yg mau nyingkirin, nunggu yg bersangkutan sadar, tapi ternyata sampe taun berganti tetep belum sadar juga. 😦 Pengen foto sedotan dalam tempat pensil sih, tapi kok gak tega. πŸ˜€

Dear, Keenan…

Dengan ibu memberanikan diri posting ini, berjanjilah untuk bisa semaksimal mungkin selalu membuang sampah pada tempatnya y, nak. Itu alasannya kenapa sekarang ini di rumah, di setiap ruangan ada tempat sampah (yang sering malah kamu jadikan tempat mainan dan malah dibongkar2 itu). :))

 

tentang meminta…

tumbuh sebagai anak pertama, dengan Bapak sebagai PNS (biasa, bukan PNS yg pejabat) yang idealis hanya menafkahi keluarga dengan uang yang halal (perlu dijelasin, karena sering banget denger komen, “enak dunk, bapaknya pagawai Pertanahan, pasti sabetan duitnya banyak), membuat aku mau tak mau terbiasa untuk tidak banyak meminta secara materi. memang sampai aku kelas 2 SD, ibu masih kerja. terakhir ibu kerja jadi pegawai honorer di kantor Pajak. aku kurang tau berapa gaji saat itu, tapi aku ingat, saat itu, kami bisa punya mobil. walaupun masih tinggal di rumah simbah (ibunya ibu). tapi setelah hamil adekku, bapak minta ibu berenti kerja aja.

mungkin itu masa2 penyesesuaian buat orang tuaku. harus menyesuaikan yang tadinya double income, jadi hanya single income. dan yang tadinya punya 1 anak, jadi punya 2 anak, artinya pengeluarannya juga 2 kali. mana akunya juga masih sakit2an, asma kambuh tiap bulan kayaknya. mobil mulai dijual. ganti motor. bukan ganti motor ding. tapi ganti2 motor. artinya beli trs butuh uang, trs dijual.. ada uang lagi, baru beli lagi. gitu terus beberapa kali. trus aku mulai liat ibu berusaha membantu ekonomi keluarga. jualan apa aja, terima jahitan, bikin2 kerajinan macam2. bunga2an dari pita jepang, tempat tisu, taplak meja, sarung bantal hias, toples2 hias. sampe terima pesenan kue. dan aku tau, ibu sering sekali sampe tidak tidur semalaman demi mengerjakan pesanan. ya karena siangnya pasti sibuk urus rumah + kami2 ini lah ya.

dengan melihat pemandangan seperti itu tiap hari, sepertinya membentukku untuk jadi tidak banyak meminta ke orang tua. aku tau, bagi mereka, sekolah adalah kebutuhan utama. jika ada permintaan yang berhubungan dengan sekolah, alat2 tulis, buku2, iuran2 sekolah, mereka tidak pernah menunda. dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup. dan setiap taun ajaran baru, mereka membiarkan kami memilih smua buku2 tulis dan alat2 tulis yang kami suka, di toko manapun yang kami suka. bahkan pernah, sampe ke Yogya demi bisa belanja buku tulis. demi agar kami2 ini bisa semangat dan bangga luar biasa pergi ke sekolah. entah mereka mengirit dari pengeluaran apa sampai bisa seperti itu. tapi di hari2 setelahnya, kami terbiasa apa adanya. makan di luar, sesekali saja. beli baju, kalau sudah perlu saja. dan waktu aku sudah SMP, dan pengen beli majalah atau kaset, artinya aku harus menabung uang sakuku, dan tidak jajan. untungnya aku emang kurang suka jajan makanan, jadi lebih sering uang saku berubah jadi majalah (bekas) yang dibeli tiap akhir bulan di pinggir jalan pecinan. itu pun rasanya udah senang sekali, karena belinya juga rame2 sama temen2 yang sama nasibnya. hahaha.. sepertinya di sekolah kami, hanya beberapa orang aja yang waktu itu bisa langganan majalah kawanku atau gadis. begitu terbit kan pasti dibawa ke sekolah tuh. dipinjam bergiliran. tapi kn kami juga gak pengen cuma baca aja, tapi gunting2 gambar artis favorit (The Moffats, I miss youuuu) dan huruf2 nya, buat dijadikan poster2an atau hiasan buku. itu sebabnya kami bela2in beli majalah bekasnya. biar bisa digunting2. ;p

waktu SMA, aku ya gak kepikiran buat minta motor (selain emang karena gak berani juga sih). jadi kalo gak dianter jembut ibu / bapak, ya naik angkot. padahal ya, kalo mau pulang, dari turun angkot sampe rumah itu, harus lewat tengah kuburan. tapi kan ya lewat situ pastinya pas masih terang, jadi gak serem2 amat. trus lagi ya, kalo aku pulang kesorean / dah habis maghrib gitu, pasti lah bapak dan stand by nunggu di depan sekolah dengan muka seram. hehe.. pantes aja pas SMA gak punya pacar. pas aku SMA ini, juga ada kejadian yang cukup membekas di ingatanku. waktu itu, keluarga kami sudah tinggal di rumah kontrakan di salah satu perumahan. kami bayar kontrakan per taun. tiba2 di saat kami akan bayar penpanjangan kontrak buat taun depan, tiba2 si anak pemilik kontrakan bilang gak bisa diperpanjang karena akan dipake sendiri. itu posisi udah kurang 2 bulan dari habis masa kontrak kami. kebayang dunk bingungnya, mau tinggal di mana kami ini. seingatku, si anak pemilik kontrakan itu datang ke rumah ngomongin itu, sore2 gitu. aku lagi di dalem kamar (yang ngadep ke ruang tamu, jadi denger smuanya) belajar buat ujian. waktu itu ya pas banget ujian sekolah catur wulan kalo gak salah. trus aku nangis aja gitu denger pembicaraan di depan. lupa persisnya gimana. begitu si orang itu pulang, bapak langsung masuk kamarku, liat aku nangis di meja, trs meluk aku. berusaha senyum, dan nenangin aku. “tenang aja, nok.. pasti ada jalan keluarnya. ini urusan bapak ibu, kamu tetep belajar aja ya”. huaaa.. tambah nangis rasanya. akhirnya nego sama pemilik rumah, dan kami boleh perpanjang kontrak tapi hanya 3 bulan. habis itu, yang aku ingat hampir tiap hari bapak sering pergi, dan bapak ibu lebih sering bisik2 diskusi serius. sampai keajaiban terjadi. tiba2 ada orang nawarin tanah, masih di kampung emang, bukan perumahan, tapi masih deket kota lah, dengan harga yang sangat terjangkau, di bawah harga standar. pengajuan pinjaman ke bank pun prosesnya seperti dimudahkan. dan bapak bisa segera mulai membangun rumah di tanah itu. masih dengan bangunan yang sederhana banget, tujuannya hanya agar kami bisa segera pindah. dan kami bisa pindah tepat di minggu terakhir masa perpanjang kontrak habis. itu salah satu moment yang Alhamdulillah-nya sampe gak terucap. sujud syukur sekeluarga lah. dan salah satu penguatku untuk percaya, “segala sesuatu, kalo emang udah jalan rejeki dan jodohnya, pasti dimudahkan jalannya”, walau awalnya harus ada peristiwa gak ngenakin dulu.

sebelum lulus SMA, dan kalo lagi ngomongin soal kuliah, bapak ibu selalu membebaskan buat aku milih mau jurusan apa atau kuliah di mana. tapi emang selalu menegaskan kalo bisa ya masuk universitas negeri. alasannya ya tentu saja selain mutu (walaupun ternyata kenyataannya gak jamin jg sih) ya biaya. jaman itu kan hampir pasti biaya kuliah di negeri lebih murah dibanding swasta. makanya satu2nya universitas negeri yang aku pengen ya cuma UGM. bukan mau gaya, tapi sekali lagi karena pertimbangan biaya. biaya SPP + biaya hidup di Yogya, kan masih relatif lebih murah dibanding kota lain. waktu itu, SPP per semester 500rb saja, tanpa biaya apa2 lagi. makanya waktu daftar SPMB pun, pilihan 1 dan pilihan 2 ya aku UGM smua. Sastra Inggris sama Sosiatri. ada yang tau Sosiatri? gak tau ya? gak heran sih, wong aku juga awalnya gak tau2 amat. ;p. waktu pas hari terakhir harus ngisi formulir pendaftaran itu, baru aku memutuskan buat ngelingkerin jurusan Sosiatri sebagai pilihan kedua. alasannya, karena itu kan jurusan yang kurang populer, pasti saingannya gak banyak, dan kemungkinan ketrimanya lebih besar. habis klo dipilihan kedua itu aku juga gak lolos, berarti pilihannya aku gak kuliah dan harus nunggu SPMB taun depan lagi. karena gak mungkin aku minta ke orang tua buat daftar ke universitas swasta, yang waktu itu biaya per SKSnya rata2 30rb an, masih ditambah sumbangan, uang gedung dan lain. habis itu, berdoa aja siang malem biar lolos SPMB, dan alhamdulillah lolos. biarin deh di Sosiatri juga, yang penting kuliah di UGM. kalo ditanya orang kuliah di mana, kan bisa jawab “Sospol – UGM”. keren kan…. biarin deh jurusannya gak terkenal juga. hahaha.. *cetek emang*

tapi dengan gambaran kondisi seperti itu, sama sekali aku tidak merasa masa kecilku tidak bahagia. bahagia2 aja kok. bapak ibu tidak pernah menunjukkan kalau mereka susah ke anak2nya. harus berhemat, iya.. harus ngirit, iya.. tapi bukan susah. dari situ, mereka mengajarkanku untuk tidak menempatkan materi sebagai ukuran kebahagiaan. mereka tetap berusaha membahagiakan kami, walau dengan keterbatasan materi. tapi akunya jadi terbiasa untuk tidak gampang meminta. kebawanya bukan hanya ke orang tua, tapi juga ke pacar dan sekarang suami.Β  rasanya kagok gitu. apalagi ke pacar. dulu waktu jaman2 pacar2an, ada temen cewek yang cerita, klo pacaran segala biaya yang nanggung ya cowoknya. makan, nonton, sampe parkir. pokoknya cewek tau bersih dan untung aja. ni aku juga gak bisa. sama pacar pertama, aku minta kesepakatan, kalo makan yang bayar harus gantian. aku gak mau smua dibayarin. kesannya kok cewek mau enaknya aja, dan kebayangnya kok malah nanti jadi kayak hutang budi. trus kalo putus, kan bisa aja tuh dia jadi ngomong “padahal dulu apa2 aku yang bayar”. apalagi kalo sampe minta2 dibeliin apa2 gitu. mulutku rasanya tak kuasa berucap. gengsi mungkin ya. tapi rasanya kalo sampe minta2 gitu ke cowok, kok kayak merendahkan harga diriku sendiri. katanya cewek minta perlakuan sama, tapi kok masih minta2? gak bisa ya beli sendiri? ya usaha dunk. klo udah usaha tetep belum bisa beli sendiri, ya sabar. gak usah beli dulu. sampe bisa beli sendiri, atau dibeliin tapi tanpa diminta. jadi klo judulnya dikasih sih, aku tetep mau trima. asal bukan aku yang minta2. ;p dannnnn ini kebawa lho sampe sekarang ke suami. kalo aku pengen sesuatu, paling aku sekedar cerita kalo aku pengen. tapi belum pernah sampe terucap, “beliin yah..”. walaupun yakin sih, kalo uangnya ada sih suami pasti mau2 aja beliin. tapi rasanya tetep aja gimanaaaaaa gitu. eh, tapi mungkin pas aku bilang aku pengen apa gitu ke suami, harusnya itu kan jadi kode buat suami kan ya.. hhh, tapi suami mana paham kalo itu kode. πŸ˜€ mungkin ini jadi salah satu alasan, kenapa aku masih tetep pengen kerja sampe sekarang, biar punya gaji sendiri, punya duit sendiri, yang bisa dipakai tanpa minta2 ke sapa2.

haih.. udah panjang aja ini tulisan. padahal sebenernya yang mau diceritain bukan itu. πŸ˜€

jadi apa yang sebenernya mau diceritain???? soal kantor sih. besok aja deh ah.. saatnya peres asip dl. caooo…

working with heart

*this will be curhat internal dan bersiap menguap kebosanan* πŸ˜€

 

Dulu, waktu pertama kali kerja beneran di forwarding . aku pernah dikasih tau sama salah satu senior di kantor, “kerja itu perasaannya gak dibayar, jadi gak usah pake perasaan”. namapun waktu itu masih lebih muda dari pada sekarang , dan lagi seneng2nya kerja, sudah pasti aku ngeyel dalam hati. kerja itu harus pake perasaan, harus pake hati, sepenuh hati, biar pengerjaannya juga dengan senang hati. harusnya bagus dunk ya punya prinsip kayak gitu. tapi.. tentu tidak klo kejadiannya di aku yang libra-scorpio .

Mungkin aku terlalu banyak mengandalkan perasaan dan kesan pertama dalam bekerja. klo yg menyenangkan buatku (artinya komunikasinya nyambung, bahasanya enak) aku akan dengan senang hati all out 200% buat handle dia kapan saja di mana saja. atau kalo kesan pertamanya udah enak, biarpun ternyata dia ngrepotin – banyak tanya – rempong – nyebelin, aku tetep aja gak akan bete. pokoknya, klo tu customer klik sama aku, selama handle shipmentnya, aku gak akan banyak ngomel deh, biarpun dia bisa skype aku tiap menit, booking dadakan, permintaan ina inu, bahkan sms dan telpon malem2 pun aku seneng2 aja. nah, kejadiannya akan sebaliknya kalo dapet customer yg aku gak sreg. gak sreg ini berhubungan dengan perasaan ya.. jadi gak selalu bisa dijelaskan alasannya secara rasional. aku pernah ngalamin gak sreg sama satu customer, hanya karena dia terlihat sok, rambut dicat jigrik2, gak ramah, trus kalo habis nanya di skype, trs dah aku jawab, dia gak jawab lagi. lha aku kan jadi gak tau ni anak dah ngerti apa belom, dah baca penjelasanku apa belom, dan capek juga kn klo tiap habis jawab, aku harus tanya lg,”ok y, mas?”. selama awal2 handle ini, hampir isinya aku ngomel mulu. hal lain kalo yg minta customer lain, aku biasa aja, klo dia yg minta, aku pasti harus sambil ngomel. tetep aku kerjain sih, tapi ya itu..sambil ngomel. ;D (tapi lama – lama sekarang aku dah mulai bisa akrab sih sama dia ini, jadi mayan mengurangi kadar ngomelku. entah dia yg sudah semakin pintar (dulu awalnya dia masih fresh graduate), atau aku yg sudah semakin sabar. hahahaha.. kayaknya bukan opsi yg kedua sih. πŸ˜€

2 minggu lalu ada customer baru lagi nih. my lovely beauty marketing udah mulai kenal sama si baru ini 4 bulan yg lalu lah. awal komunikasi mereka pun udah gak tepat waktu, soalnya pas kami berdua lagi curi waktu ke carrefour siang2, trus lagi makan kfc, (jadi sbenernya kami sih y yg gak tepat waktu. :D) si baru ini telpon, minta rate ke Bangkok. dijawab, “baik, mb.. nanti segera saya info setelah saya sampai kantor. ini saya baru di luar”. eh, 5 menit kemudian si baru ini dah nelpon lagi, maksa2 harus dikasih rate sekarang. pokoknya adalah dia itu 5 kali telpon waktu itu. itu dah sambil cemberut mbak marketingku buru2 email rate ke dia. semua orang gak suka kan klo kerja dengan diburu2? lagian ngapain juga sih minta rate harus sekarang, padahal udah tau rate itu berubah tiap bulan, dan toh shipmentnya juga baru jalan 3 bulan kemudian? apa bedanya coba dengan rate baru diinfo 1 jam kemudian? kenapa suka banget customer ini pake kata “harus sekarang”?? dan setelah itu, sampe 2 minggu itu, selalu adaaaaaaa aja pertanyaan dan permintaan dari si baru ini. dan seringnya permintaannya itu adalah sesuatu yg gak mungkin, nyebelin, tapi orangnya ngeyel. at the end, kami tau sih ternyata dia eksportir baru, dan ini shipment pertamanya. dan ternyata perjalanan berat menghandle shipment ini masih harus dicombo ketika mulai 2 minggu lalu aku harus mulai komunikasi dengan customernya yg di Bangkok. fiuhhh… dari email pertama pun aku dah gak suka. aku gak tau, apakah standar kesopanan masing2 negara dalam komunikasi tertulis itu beda2. tapi aku merasa, memulai email tanpa sapaan, tanpa “Dear….” dan memakai huruf besar dan tanda pentung segabruk itu gak sopan. dan customer ini begitu. masih ditambah dengan bahasa Inggris yang mungkin sealiran sama vicky, aku jadi semakin gak ngerti apa maunya. dan tentu saja jenis komunikasi kayak gini ini fatal sekali. butuh waktu 3 hari baru akhirnya kami bisa sepakat dengan format dokumen yang harus aku buat. dokumen shipment Bangkok emang ribet. tapi bukan congkak bukan sombong ya.. aku sudah puluhan kali handle shipment Bangkok, dan sebelumnya hanya butuh 3 kali email untuk mengkonfirm smua, dan gak perlu pake tarik urat segala. dan smua release smoothly.

kembali ke si baru nyebelin ini. walaupun nyebelin, aku tetep berusaha ngerjain dengan sebaik mungkin, dengan harapan semakin cepet smua beres, smakin cepat juga urusanku dengan mereka kelar. dan mungkin justru karena itu lah, i made mistake on the docs. big one. and happen on the last minutes. jadi yg harusnya urusanku kelar setelah doc aku kirim, ternyata 10 menit dari seharusnya aku kirim, aku baru sadar, aku salah. quantity yg seharusnya 40 sets, tercetak 4 sets. langsung pucet dan dingin smua badanku. soalnya aku sudah tau, runtutan kesalahanku ini bakal panjang dan ngrepotin banyak orang. ngrepoting akunting buatΒ  bayar sekarang, ngrepotin operasional buat kirim doc sekarang, ngributin temen Semarang buat anter doc sekarang, dan ngributin pelayaran untuk revisi doc sekarang juga. see.. karma does exist. :D. aku sebelumnya benci denger customer minta dengan kata2 “sekarang”, sekarang harus aku yg meminta seperti itu, sama temen2 sendiri pula. plus masih harus motong profit marketing. dan bikin customer telat terima documentku, huhuhuhu… maafkan aku. buat aku, hal kayak gini ini bisa bikin gak enak tidur gak enak makan (ini aja belum makan siang) berhari2. merasa bersalah, merasa gagal, dan kecewa sama diri sendiri. lebay much, gak sih? πŸ˜€

lesson learned.

gak seharusnya aku gak suka dan sebel yg berlebihan sama orang. mungkin dia emang menyusahkan, tp kalau hal itu dia lakukan karena emang ketidaktauannya dia, seharusnya aku yg lebih sabar melayani dan mengajari dia. bukankah customer service itu salah satunya emang untuk educate customer. dan jangan terlalu berlebihan kesel sama orang, karena sapa tau ada gilirannya aku jadi orang yg menyebalkan buat mereka, walaupun tanpa sengaja. but hey, mungkin mereka juga gak pernah sengaja bikin aku sebel sebelumnya kan ya.. dan namanya juga kerja di perusahaan jasa. seharusnya pelayanan terhadap customer itu kan smua sama. sama2 harus dilayani dengan sebaik2nya. apalagi harus dibedakan berdasarkan kadar kecocokan antara customer dengan customer service nya. harusnya, kalau aku bilang mau kerja dengan hati, artinya hatiku harus diberikan untuk smua kerjaanku. tapi aku kan manusia juga, hati gak bisa bohong kan. sapa sih yg gak akan dengan senang hati handle customer yg baik, pinter, ramah, bayar on time, tau prosedur, kasih profit banyak, gampang diedukasi, cakep, tinggi, suka nraktir, , tapi namanya ini bukan kantor milik sendiri, mana bisa plih2 customer, apalagi aku “cuma” CS di sini.

jadi.. mari belajar lagi. belajar profesional, belajar lebih teliti, dan belajar pakai hati dengan porsi yg benar. dan belajar lagi untuk gak usah banyak komentar, gak usah banyak bahas kalo ada orang yg berbuat salah. karena perasaan bersalah karena berbuat salah itu udah jadi hukuman yg berat tanpa harus ditambah dengan komentar orang lain. :((